Post Page Advertisement [Top]

    Vespa klasik memang tidak pernah ada surutnya. Motor yang bentuknya unik dengan bodi gemuk di belakang ini masih saja dipakai dari generasi ke generasi. Bahkan oleh seorang Pria Imoet bernama Beghon Bajjajvanbalabala. Bukan cuma suka Main Togel Online, pria yang tinggal di Medan ini benar-benar pakai Vespa klasiknya setiap hari. Dia bahkan sudah suka Vespa klasik sejak SMK.
"Pertama kali suka Vespa dari tahun 2007 waktu masih zaman SMK itu kira-kira kelas I. Mulai suka Vespa, akhirnya pertama beli Bajaj tahun 1965," kata Beghon.
Pria keturunan Jawa ini sempat gonta-ganti Vespa. Vespa pertamanya itu kemudian dijadikan sespan atau istilahnya "extriman". Vespa yang dipakainya kini pun dibeli pada Februari 2017 lalu. "Dulu saya angkat Excell tahun 2004, sampai sekarang saya pakai. Belinya sama kawan juga di Medan. Akhirnya punya klub Vespa pada tahun 2009 namanya Pasukan Independen Scooter Medan (PANSER Medan) sudah berjalan 10 tahun," ujarnya melengkapi kedekatannya dengan tunggangan asal Italia ini. Beghon dulu suka Vespa karena Om-nya. Tunggangan tipe Kongo tersebut nekat dia pinjam sampai akhirnya masuk ke dalam selokan hingga koplingnya patah.
"Dari situ malah makin penasaran. Ah coba beli Vespa. Dulu kumpulkan uang. Jadi kalau pulang sekolah kerja uangnya ditabung. Sampai sekarang pakai Vespa juga buat sehari-hari," kata Beghon yang lalu cerita kalau Om-nya dulu cuma bilang enggak apa-apa setelah Vespanya masuk ke selokan. Naik Vespa klasik pun bukan cuma banyak sukanya tetapi juga dukanya. Di sini uniknya Beghon. Pria yang kini sudah memiliki dua orang anak tersebut menghadapi juga problem-problem khas pemakai Vespa klasik. "Dukanya itu kalau ban bocor terutama yang di belakang. Itu susah banget bukanya. Apalagi kalau kunci-kuncinya tidak lengkap. Alternatif pertama ya telepon teman. Lumayan sih teman cepat datang. Pernah sekali dan itu posisinya pas jam 11 malam juga," kata dia. Momen-momen seperti ini juga yang menarik buat dia. Soalnya, pemakai Vespa pun kenal tidak kenal kerap saling bantu. "Kalau orang tahu lihat Vespa mogok biasanya otomatis mereka berhenti. Kalau yang enggak ngerti ya mereka jalan saja. Jadinya persaudaraan di Vespa kuat. Enggak kenal tetap berhenti," ujarnya. Beghon bukannya tidak suka dengan Vespa modern. Namun baginya yang klasik justru enak dan membuatnya makin suka. "Kalau yang sekarang ya kayak matik sih ya. Cuma beda harga sama gengsinya," kata dia secara bercerita kalau urusan bongkar ganti busi sudah jadi makanan sehari-hari. Begitu juga ganti tali kopling. Beghon berujar kalau dia ingin Vespanya saat ini punya warna agak doff. Tapi untuk tambahan aksesori, dia mengaku enggan karena malah terlalu ramai dan kesan klasiknya menjadi hilang. "Kepuasan buat sendiri saja. Lebih nyaman. Kan kalau berkendara yang pertama nyaman dulu," ujarnya lalu bilang kalau dia pernah naik Vespa ke Saban.
Orang tuanya sempat melarang anaknya ini hobi di Vespa. Bahkan, larangannya sempat keras meski Beghon rupanya cukup mahir merayu.
"Dulu sempat dilarang Agent Togel Online Aman & Terpercaya sama Ibu dibilang coba kalau berani beli biar dibakar. Akhirnya ya segala cara sambil merayu juga. Sampai sekarang akhirnya Ibu malah mendukung. Waktu itu beli terus coba-coba jemput Ibu waktu dia pulang belanja. Saat itu masih naik Vespa bajaj. Awalnya enggak mau, tapi ke sini-sini akhirnya mau juga," ujarnya. Asal tahu saja. Vespa-nya yang sekarang Excel 150 tahun 2004 punya nama panggilan. Beghon menyebutnya "Eli".
Pengalaman paling manis sama Eli bagi Beghon adalah punya teman banyak, "Kalau dari saya pribadi memang susah dekat sama perempuan dari dulu." ujar Beghon yang mengaku bermimpi bisa naik Vespa sampai ke Italia ini.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]